Tampilkan postingan dengan label android. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label android. Tampilkan semua postingan

Photo Editor ( Android Only )

"Kak, ini pake photoshop ya editnya?" atau "Kak, editnya pake aplikasi kak?" Pertanyaan seperti ini sangat biasanya muncul di kolom komentar akun instagram saya @the_afree. Entry kali ini mengulas sekilas beberapa aplikasi yang biasa saya gunakan untuk mengedit photo di smartphone berbasis android. Diluar karena kurang mahirnya menggunakan photoshop, menggunakan editor di platform android ini cukup mudah dengan hasil yang tidak mengecewakan.

Melihat perkembangan aplikasi saat ini, semua bisa dilakukan via smartphone. Pekerjaan, hobby atau apapun itu bisa dihandle via smartphone. Begitu halnya dengan photography, device saat ini semua produsen  sudah menanamkan kamera yang boleh dikata mumpuni untuk photography. 

Berikut ulasan aplikasi yang biasa saya gunakan untuk editor photo via smartphone berbasis android.
  • Snapseed. Yang suka dengan mobile photography tentunya sudah familiar dengan aplikasi ini, baik yang berbasis android ataupun IoS. Pada awalnya, tahun 2011 tepatnya, Snapseed hanya tersedia untuk tablet/smartphone berbasis ios (iPhone/iPad) dan dijual dengan harga sekitar 5 dolar. App ini dinobatkan sebagai salah satu app terbaik di iPad. Namun awal tahun 2012 lalu Google membeli perusahaan yang membuat snapseed, Nik Software. Hasilnya adalah, secara resmi snapseed app juga tersedia di Android dan bisa didownload secara gratis, baik untuk Android (Google Play) maupun IOS (iTunes Store). Google membeli Snapseed dengan harapan bisa menggoyang dominasi instagram (yang dimiliki oleh facebook) di dunia mobile photography. Untuk itu, google melengkapi snapseed dengan fitur sharing foto ke google+ yang terintegrasi dan juga bagi pemilik IOS, snapseed akan dilengkapi dengan filter tambahan. Untuk menggunakan app ini terbilang cukup mudah.

  • Photo Editor by dev.macgyver. Aplikasi ini bisa saya bilang lebih mumpuni dari aplikasi snapseed, fitur yang dimiliki aplikasi ini jauh lebih lengkap dari snapseed. Diluar fitur-fitur untuk editing, aplikasi ini juga bisa menayangkan exif dari file photo.


  • VSCO Cam. Selain akun instagram @the_afree yang saya khususkan untuk photo hitam putih, ada akun instagram lain @afrimannawi yang saya khususkan untuk photo yang saya ambil dengan kamera smartphone dan editing dengan menggunakan filter yang disediakan aplikasi ini. Aplikasi VSCO Cam ini hadir di Android setelah membuat debut nya yang luar biasa pada operating sistem iOS yang menuai kesuksesan yang besar.


    Aplikasi ini memang terlihat benar-benar menakjubkan, dengan tampilan menu yang cantik dan editing tools yang enak, bahkan fitur di in-App Purchase nya pun sangat menarik untuk di coba.

    Kamu dapat mendownload aplikasi diatas di playstore secara gratis, selamat mencoba.

Mendadak Photographer

Tahu instagram? Tidak tahu? Anda otomatis kudet alias kurang update. Ios, Android, Windows Phone sampai ke Blackberry pun aplikasi photo sharing ini ada. Aplikasi ini awalnya memang ekslusifitasnya hanya dipegang oleh IoS user, namun ketika booming Android melanda, mau tidak mau pengembang aplikasi inipun menyambangi Android. Tak hanya sampai di Android, di Windows Phone pun saat ini aplikasi Instagram ini bisa berjalan, kemudian merambah ke Blackberry. Disini saya tidak akan membahas instagramnya tapi user instagramnya.

Intro
Sebelum saya mengenal instagram dan mengunakannya menjadi media utama untuk photo sharing saya, terlebih dahulu saya telah berkenalan dengan Flickr besutan Yahoo! dan dengan dua aplikasi android yang bisa dibilang cukup tenar. 
  • Pertama, Flickr, Siapa yang tidak kenal dengan photo sharing besutan Yahoo! ini, flickr sudah sangat terkenal dikalangan photographer pro di seluruh dunia. Photo sharing ini saya gunakan sudah cukup lama sejak Juli 2010 dimana saat itu saya senang dengan kamera handphone ( yang saat itu masih Nokia ) saya untuk mengabadikan gambar. Sampai saat ini saya masih menggunakan Flickr, tapi tidak seaktif di instagram. 
  • Kedua, Picplz, aplikasi photo sharing ini tidak jauh beda dengan aplikasi photo sharing yang lain, filternya lumayan mumpuni ( saya lupa filter yang disediakan aplikasi ini ), saat itu aplikasi ini lumayan cukup terkenal di kalangan pengguna android. Saat ini aplikasi ini sudah tidak ada lagi di playstore android karena telah di shut down pada tanggal 3 Juli 2012. 
  • Yang ketiga, Streamzoo, untuk urusan filter aplikasi ini sangatlah jauh dari instagram, aplikasi ini menyuguhkan kira-kira 20 filter, yang menarik dari aplikasi ini dan tidak dimiliki oleh instagram, user bebas mengunggah poto mereka tidak harus dalam ukuran 1x1 atau square. Mengapa menggunakan instagram, bukan tetap pada streamzoo? User streamzoo kurang, apalagi area Makassar, teman yang menggunakannya pun bisa saya hitung dengan jari. Saat instagram menyambangi android, saya pun terlena seperti user android yang lain. Saat saya menulis artikel ini, streamzo di playstore sudah tidak saya temukan lagi.
Sepertinya intronya sudah sangat panjang, mari lanjut ke intinya.

Photographer dadakan, mengapa saya menyebut demikian?
Begitu instagram masuk ke android, berbondong-bondonglah user android mendownload dan mengunggah photo mereka. Peduli setan, mau poto itu bagus, mau poto itu jelek, yang penting upload. Nah, saat user-user ini menemukan beberapa photo yang sangat jauh dari hasil jepretan mereka, disini pulalah muncul rasa malu untuk mengunggah photo yang biasa-biasa saja. Dan saat mereka menemukan "kelompok-kelompok" atau "geng" bahkan komunitas, disinilah mereka akan mulai malu untuk mengunggah photo yang jauh dari layak, mereka akan mulai mensortir photo-photo mana saja yang akan mereka upload.

Coba lihat feed mereka yang baru menggunakan instagram, bandingkan dengan saat mereka sudah mengenal komunitas atau geng dalam instagram ini. Feed awal mereka tentu diwarnai dengan photo yang bisa dibilang asal upload, saat sudah mengenal kelompok-kelompok instagram photo feed mereka pun berubah drastis. Mereka disini bukan photographer pro, mereka yang saya maksud disini user-user yang sebelum mengenal instagram tidak "mengenal" dunia photography. Ada yang senang dengan HDR, ada yang senang dengan macro photography, ada yang senang dengan hitam putih, dan bermacam-macam lainnya. Disini saya melihat banyak yang kemudian mejadi "sok tahu", maaf saya menyebut demikian, mengapa? lihat saja komentar-komentar yang terpampang di komentar photo mereka, diantaranya "wow cadas, wow keren, top dan segala macam" yang sebenanrnya poto yang mereka komentari ini biasa-biasa saja, bahkan bisa dibilang sangat tidak layak untuk dikomentari demikian.

Fenomena yang lain lagi, ada ketidakpuasan saat mengambil poto hanya bermodalkan handphone, berbondong-bondonglah menggunakan user-user ini menggunakan kamera DSLR. Namun, saya tekankan sekali lagi, tidak semua user instagram seperti ini. Lalu kemudian berbondong-bondong menjadi photographer dadakan, yang memang dari awal sebelum mengenal instagram bisa bisa dibilang wajarlah ketika mereka melanjutkan hobby mereka, namun yang saya sebut sebagai photographer dadakan disini mereka yang sebenarnya tidak senang dengan dunia photography menjadi merasa terpaksa untuk mencintai photography. Demi menunjukkan ke eksistensisnya di "group atau bisa dibilang komunitas ini" mereka rela menyisihkan waktunya untuk ikut photowalk, jepret sana jepret sini.

Sisi positif dari sini yang kemudian saya tangkap, user-user ini kemudian paham bagaimana teknik, lebih menggali diri mereka di bidang ini, lebih ingin tahu lagi dengan dunia ini, yang pada akhirnya menghasilkan photo yang memang bisa dianggap layak untuk dipublisikan.
Teruslah berkarya, meskipun di cap sebagai photographer dadakan, mungkin suatu saat saya, kami, kamu bisa menjadi photographer dalam arti sebenarnya.
 

afri Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger